Dialog Hati, Dialog dengan Fikiran Sendiri, Muncul dari Berbagai Kondisi, tidak Selamanya Ia Nyata, tidak juga hanya Fiktif Belaka

4/19/09

Maafkan....

August in Memorian...

Bukan salahku jika sekarang aku bersikap demikian terhadapmu, karena aku bukan type yang selalu mampu mengikuti lika-liku yang engkau ciptakan dihadapanku. Bagiku, semuanya bisa dibuat sederhana, jika kamu bisa memandangnya sederhana, akan tetapi engkau telah membuatnya sedemikian sulit hingga jalan itu seakan tidak tersedia bagimu. Padahal aku sudah memberi peluang itu buatmu, sengaja kupersiapkan jauh-jauh hari disela padatnya jadwal perjalanan yang harus aku lakukan saat itu. Sengaja ku luangkan waktu buat kamu, agar segala maksud dan tujuan yang ingin engkau sampaikan mampu kucerna dengan akal sehatku, dan bisa kupertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Agar jikapun Allah menakdirkan kita untuk berjalan beriringan ku hanya ingin itu merupakan hasil pertimbangan yang benar-benar matang. Sebuah keputusan yang tidak diambil dengan tergesa-gesa.

Maafkan aku, saat ini aku benar-benar tidak ingin memikirkannya. Aku sudah mempersiapkan waktu buat kamu, tapi kamu sudah menyia-nyiakannya. Maafkan untuk kesempatan yang tidak mungkin akan kuberi ulang. Saat ini, aku benar-benar hanya ingin fokus pada apa yang sedang aku jalani. Bukan karena kamu siapa, dan bagaimana kondisimu saat ini. Jujur aku tidak pernah melihat latar belakang, dan kondisi fisik seseorang, aku tau kekurangan yang ada padamu saat ini, benar-benar telah meruntuhkan segala nilai kebanggaan yang engkau punya. Namun, aku tidak pernah memikirkan itu, aku pernah benar-benar mempertimbangkanmu tanpa memandang status apa yang engkau sandang. Aku tidak pernah menganggapmu rendah, walau saat ini engkau tidak mampu berjalan sempurna lagi. Yach, peristiwa 5 tahun yang lalu, telah mengakibatkan engkau kehilangan sebelah penyangga tubuhmu untuk bisa berjalan sempurna.

Begitupun, aku masih saja setia menemanimu sebagai sahabat yang siap menghibur setiap saat, siapa sangka jika akhirnya engkau menginginkan untuk lebih daripada itu. padahal dulu, ketika signal itu kuberikan, engkau selalu menanggapinya dengan dingin. Kini ketika, aku sudah menentukan jalanku sendiri, ketika aku belum sembuh benar dari luka yang dicipta oleh seseorang yang selalu keceritakan padamu dulu, tiba-tiba engkau datang dengan maksud lain..

Kaget, itulah ekspresi yang tergambar diraut mukaku ketika mendengar pengakuan itu. Kenapa baru sekarang?? kenapa??
Tapi, buat apa kupertanyakan lagi, toh inilah kenyataan, mau tidak mau, dia datang dihadapan kita saat ini, tapi jauh di lubuk hatiku entah kenapa aku begitu sedih mendengar pernyataan itu, sedih karena aku tidak bisa memberikan porsi yang sama atas apa yang engkau berikan, sedih karena apa yang pernah kita jalani, penuh dengan warna murni, kini harus terkotori oleh keinginan yang seharusnya tidak pernah ada, sedih karena saat ini akupun tidak lagi berada pada keinginan itu, aku benar-benar telah tidak ingin memikirkannya lagi. Namun, yang paling aku sedihkan adalah karena aku tau engkau akan merasa kecewa atas sikapku, tapi lagi-lagi kita harus sadar bahwa kita berhak membuat pilihan atas segala yang kita inginkan dalam hidup kita.

Read More......

4/18/09

Mencinta dan Cinta Sejati

Inikah namanya cinta?? Malam ini aku berdiskusi dengan seseorang yang baru saja ku kenal. Entah dorongan apa yang membuatku ingin mengenalnya, tujuankupun mulai mengabur.. Entahlah..

Mulanya, aku sering mendengar curahan hati seorang teman, yang mengatakan kalau hatinya telah dibawa pergi oleh seseorang yang pernah menjadi si penjaga hati. Hampir setiap saat disela komunikasi kami nama si lelaki tetap saja tersebut dari suara lembutnya.. Kala itu aku selalu mengatakan kalau sudah saatnya ia bahagia dan membuka mata kalau masih banyak keindahan yang bisa ia tatap dari tempat yang berbeda. Namun, tetap saja si lelaki menjadi topik yang paling sering menjadi perbincangan dia denganku. Berdoa, menasehati dia untuk segera melupakan ternyata tidak ada gunanya.

Kala itu aku berfikir kalau ia masih sendiri sepeninggalan si lelaki. Diluar dugaanku dia ternyata punya seseorang yang menyukainya, lelaki itu menyukainya, dan ia menerima si lelaki karena rasa kasihan dan karena hanya ingin mengisi kekosongan hatinya.. sayang sekali, hati yang lain diterimanya, akan tetapi tidak lagi bisa mendapati keutuhan cintanya... Karena setiap saat dia berkata kalau si lelaki tidak boleh berharap banyak padanya..

Satu hari aku pernah berniat untuk mengembalikan si lelaki yang sudah membawa hatinya pergi,. dan aku juga mendengar jawaban si lelaki tidak jauh beda dengan jawabannya.
Aku punya seseorang sekarang, dia menyukaiku dan aku coba untuk terima dia.
Hmmm....
Sekali lagi aku mendesah,, buat apa yang telah terjadi pada kedua sahabat ku tersebut. si lelaki menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak ia cintai. pun sahabat menerima cinta seseorang tetapi hatinya tetap saja masih berlabuh di hati cinta terdahulu..

Benarkah sebenar-benarnya cinta itu akan hanya ada sekali dalam sejarah perjalanan kehidupan manusia di muka bumi ini? atau mereka-mereka saja yang membuat dan membawanya terlalu serius hingga harus ada luka dari setiap hubungan cinta yang terlarang dimata agama.

Kali ini aku tidak menilik dari sudut pandang agama, hanya dari sudut pandang awam dan daifku. Secara logika memang, ketika seseorang mencinta maka ia akan mencoba memberikan seluruh kesanggupannya untuk si penerima cinta tersebut, dia akan memberikan seluruh keindahannya, menampakkan senyum termanisnya, berusaha berbicara selembut mungkin, berusaha mengungkap segala perasaan dengan segala hal yang menyenangkan.

Tidak jarang pula, hubungan tersebut diselingi dengan derai air mata, yang bisa bermakna kerinduan, kebahagiaan, kepedulian pada sipencinta atau si penerima cinta.

Namun, cinta yang notabene dilarang oleh agama tersebut, acap kali melukai hati, membuat air mata tumpah dan memberikan bekas yang sangat sulit untuk dihilangkan dari dasar hati. Hingga pada endingnya seseorang yang sudah pernah begitu mencintai tidak akan pernah punya cinta sepenuh hati lagi diperjalanan berikutnya..
Ohhh,, alangkah sayangnya para penerima cinta dari seseorang yang sudah pernah menyerahkan cintanya buat pribadi-pribadi terdahulu..

Dengan logika si daif ini, ada kesimpulan yang terbesit difikiran bahwa, mungkin itulah salah satu alasan kenapa Allah melarang terjalinnya hubungan cinta sebelum kedua insan manusia diikat dengan tali pernikahan,, karena ikrar dalam pernikahan tentu tidak akan segampang mengingkari ikrar percintaan.

Maka dari itu, berbahagialah bagi siapa saja yang belum pernah memberi ataupun menerima cinta semu.. sehingga cacat hati tidak akan pernah anda derita di hidup anda, dan keutuhan hati hanya akan menjadi milik seseorang yang dikirimkan oleh Allah buat mengiringi hidup anda dunia akhirat.

Cinta sejati adalah cinta Allah pada hambanya, Cinta Rasul pada umatnya, Cinta orang tua pada anaknya, hanya itulah cinta yang tidak akan pernah teringkari sepanjang perjalanan hidup umat manusia. Karenanya.. Nikmatilah cinta sejati itu, itulah sebenar-benarnya cinta yang membuat hati utuh buat selamanya.. Semoga

Read More......

4/14/09

Dialog Dengan Tuhan I

Tuhan, dulu aku selalu bersyukur ketika Engkau memberi coba, dulu aku selalu bersyukur ketika Engkau menghadapkanku pada persoalan yang membuat langkahku sedikit terhambat. Dulu aku selalu bersyukur ketika aku Engkau memberi aku kesulitan. Karena Tuhan, aku selalu menjadikan coba itu sebagai motivasi buatku dan mencoba menbuktikan kalau aku akan selalu kuat dengan coba itu. Karena itu menjadi pemotvasi yang membuat aku semakin bersemangat. Namun kini Tuhan, entahkah karena semuanya terlalu berat Tuhan, sehingga kerikil kali ini, yang telah membuatku tersandung tidak hanya membuat langkahku sedikit tertatih dan tampak pincang, namun Tuhan semuanya seakan menghentikan jalan yang harus aku tempuh untuk segera sampai ditujuanku.

Tuhan, sepertinya hanya ada satu tikungan lagi untuk ku kemudian sampai di pemberhentian berikutnya. Sepertinya hanya perlu sedikit lebih konsentrasi dari sebelumnya agar kali ini aku sampai dengan selamat dan bisa segera istirahat ketika sampai di pemberhentian berikutnya itu Tuhan, Namun Tuhan, apakah ini akibat dari ketidakhatihatianku, sepertinya hingga di aku harus terperangkap dalam diam dan bingungku, dan aku tidak lagi Tahu bagaimana mengendarai waktu yang telah Engkau anugrahkan ini Tuhan.

Tuhan, aku terperangkap dalam ketidakberdayaan terhadap coba dan ujiMu kali ini. Tuhan, semoga aku selalu Kau kuatkan, Kau tuntun dan Kau arahkan Tuhan, sehingga aku masih mampu bangkit dari lemahku kali ini.. Amin

Read More......

4/13/09

Kembali ke Dunia Nyata

Pagi ini Miaoli hujan, tadi malam, perlahan terasa suhu berubah menjadi semakin hangat. Itu artinya sisa-sisa musim dingin sudah beranjak berlalu meninggalkan posisinya. Meski pergantian musim terjadi beberapa minggu yang lalu, kala kusaksikan bunga-bunga mulai bermekaran, namun entah kenapa suhu belum juga beranjak naik, baru tadi malam aku benar-benar merasakan kehangatan dan tidak lagi menggigil kala harus duduk di depan meja kerjaku untuk melanjutkan aktifitas sebagaimana biasanya.

Hidup di negeri ini, tidak banyak hal yang bisa kulakukan, setiap hari rutinitasku tidak pernah berubah, ibadah, belajar, meeting, lanjutin riset, tidur, makan dan keluar dihari libur. Ohh hidup terasa sangat tawar dan tanpa warna, seluruh komunikasi eksternal didominasi oleh tulisan yang dikeluarkan lewat media instant messenger,
email maupun SNSs. Selebihnya yang paling banyak kulakukan adalah mencoba melakukan komunikasi via telephone. Tidak banyak komunikasi yang dilkukan secara langsung, kecuali hanya terhadap orang-orang tertentu saja yang jumlahnya terbatas.

Duch Tuhan,,, aku mulai bosan menjalani hidup seperti ini, aku ingin kembali Tuhan, kembali kedunia nyata, kala aku berinteraksi dengan banyak orang mencoba berbagi dan bercengkrama, terasa itulah kepuasan dan kebahagiaan sesungguhnya.

Di sini Tuhan, aku seperti berada di tempat pembuangan, terpenjara oleh mimpi yang aku pilih sendiri, terkurung oleh imajinasi yang sering membuat aku meronta dan tidak mampu melakukan apa-apa. Terlena oleh setumpuk pekerjaan yang membuatku lelah namun terkadang tidak ada hasil yang aku dapatkan. Berhari-hari hanya kuhabiskan untuk eksplorasi di dunia maya sekedar mencari sesuatu yang terkadang tidak pasti, lalu semuanyapun terkadang harus digantikan lagi dengan yang lain, mencari dan mencari lagi..

Aku bosan Tuhan, aku bosan berada di dunia ini, kala ku berpaling menatap jendela ruang kerjaku kusaksikan hujan mulai membasahi rerumputan di halaman dormitory, kala itu pula ingatanku mulai lagi menerawang mengingat setiap langkah yang kulalui di tanah kelahiran tercinta. Sesaat pula ingatanku mulai membayangkan setiap bait kalimat yang pernah kulakukan dengan seseoarang yang kini hanya akan menjadi bagian dari mimpi buruk dan penghambat perjalananku Tuhan…

Tuhan, lewat derai hujan pagi ini, tolong sampaikan Tuhan kalau aku sudah memaafkan segala khilaf dan kebodohan yang terlanjur ia lakukan terhadapku. Tuhan lewat desir angin yang mengiringi hujan pagi ini sampaikan juga kerinduan yang tak terhingga untuk mereka yang begitu berarti dalam hidupku. Semoga jalan ini masih bisa kulanjutkan karena alasan itu Tuhan.. dan semoga aku masih bisa berjalan dibawah ridha dan ampunanMu. Amin

Read More......

4/12/09

Begitukah caramu??

Maafin aku la, maafin karena ku tidak memberimu ruang yang nyaman untuk mu bercerita sekarang, kamu terlalu la, kamu sungguh terlalu, dan semuanya masih berbekas.. akupun belum mampu menghapus dan menganggap kalau tidak terjadi apa-apa antara kita. Dan sekarang kau mencoba mengangkat tema baru di cerita kita la, bukankah yang kemaren saja belum sampai pada kesimpulan la??

Bukankah yang kemaren saja masih tertahan di klimaks yang kita tidak tahu menurunkan alur cerita kita untuk menuju ke kesimpulannya la?? lalu kenapa.. kenapa ketika ku mencoba mencari materi, mengurai kalimat-kalimat yang pantas agar cerita kita enak dicerna, engkau malah memberiku tema yang baru?? begitukah caramu menyusun cerita la..

La, bukannya aku tidak mau perduli atas posisi yang harus kau tempati sekarang, bukannya aku tidak mau mengerti atas peran yang harus kau jalankan sekarang la, tapi la, bukankah kau sendiri yang tidak pernah mendeskripsikan padaku? sepahit dan sesulit apakah peran yang kau harus lakukan la? lalu ketika aku mencoba mencari titik temu dari setiap persoalan yang tengah mewarnai hari-hari kita saat ini? kenapa engkau malah membiarkannya menguap begitu saja...

Tidakkah kau takut la, tidakkah kau takut bahwa timbunan uap-uap itu lambat laun akan menumpuk dan bisa menjadi badai yang akan menghancurkan segalanya la? kenapa la.. kenapa kau tidak mau berdamai dengan realita la. kenapa???

Berapa kali harus kupertanyakan la?? berapa kali harus kita ulang yang itu-itu saja? tidakkah kau jera ditimpa kesedihan untuk hal yang sama??
kini aku mulai jengah menghadapimu la.. aku seperti tidak mengenalimu lagi.

Nala, sekarang malah berbalik, kau malah memposisikan aku seperti akulah sipembuat kehancuran itu. La.. la
Aku benar-benar kehilangan nalaku yang dulu

Read More......

4/8/09

Biarkan saja...

Kenapa takut?? Kenapa takut untuk jujur apa adanya.. kenapa takut untuk menampakkan siapa kita sebenarnya? Segitu tidak bersahabatnya kah aku akan akan kebenaran dimatamu? Begitu tampak tidak realistis kah aku dibenakmu? Kenapa kau salah menilaiku.. kenapa??

Sekarang, semuanya terlanjur terlakukan kan?? Kau terlanjur membuatku luka untuk sikap yang kau anggap benar itu? Aku tidak menyalahkanmu atas semua itu, sama sekali tidak. Hanya segudang penyesalan yang menghantui tidur malamku saat ini, mungkin aku bukanlah sosok yang ramah dengan setiap kalimat yang kau ucapkan, mungkin aku bukan orang yang pantas untuk tempatmu bicara apa adanya. Kamu tahu?? Begitu banyak tanda tanya bermunculan di benakku saat ini, apa salahku, apa yang telah membuatmu enggan berterus terang tentang pilihan jalan yang membahagiakan buatmu.

Malam ini, kucoba pandangi awan yang berarak di langit sana, tampak gumpalan-gumpalannya yang mencoba menghalangi bulan untuk memberikan sinarnya pada bumi. Kucoba renungkan kembali setiap ucap kata yang sering kita lakukan kala malam menjelang. Ku coba mereka-reka kembali sikap dan laku apa yang membuatmu menilai aku segitu tidak terimanya akan apa yang engkau jalani..

Belumpun kutemukan jawabannya tiba-tiba awan-awan itu mulai memenuhi langit dan menutupi sinar rembulan yang membuat malam terasa makin kelam. Digulita malam itu, kudongakkan kepala di sudut tangga tempat ku biasa berdiri, jika ku ingin bercakap-cakap denganmu. Jauh dibelahan bumi yang lain, ku dengar gelak tawa dan ucap canda yang kerap membuatku tergelak juga dan mencoba menimpali setiap candamu itu.

Tidak jarang juga kudengar nada suaramu yang melemah dan tampak sedang berduka, galau, dan kecewa terhadap sesuatu, dan disaat itulah terkadang aku berbisik pada angin malam dan memohon padanya tuk menyampaikan bisikanku padamu bahwa, kapan saja engkau membutuhkan aku, maka aku akan berada disana secepat mentari terbit esok pagi. Begitulah la, Aku tampil apa adanya untukmu, itu bukan hanya untukmu la, tapi juga buat mereka yang sama berartinya untukku, seperti kamu juga yang begitu berarti untukku. Lalu kenapa la?? Kenapa engkau selalu beranggapan aku berlebihan.. pertanyaan itu kerap menjadi perdebatan antara kita la..

Kini terjawablah sudah, makna dari ungkapan-ungkapanmu itu, seiring dengan awan hitam yang berarak menghalangi bulan, kutemukan jawaban dari bingungku, dari raguku, dari ketidakmengertianku, bahwa ternyata ungkapanmu itu bermakna lain yang begitu sulit kufahami dan kuterima dengan akal sehatku. Kenapa la?? Kenapa? Apa yang salah denganku la.. kenapa engkau melakukan itu? Kenapa engkau membuatku tersandung di jalan lurus kita? Kenapa engkau menyodorkan kepahitan ketika aku dihadapkan pada beban hidup yang begitu sulit kuhadapi sendiri di pulau kecil ini?

Ketika tubuh lemahku rentan terhadap angin senja, kau malah menciptakan badai dan meluluhlantakkan segala asaku la.. ketika aku mencoba mengumpulkan dan merekat kepingan-kepingan hati yang dulu telah dihancurkan la, kucoba menyiraminya dengan tekun la, dengan tetes embun pagi hari dan dengan cucuran air mata yang tidak lagi segan mengalir kapan saja la.. kala tunas itu mulai tumbuh la, engkau malah menghadirkan cairan panas yang membuatnya layu tak berdaya.

Tapi ya sudahlah la, semuanya sudahpun berlaku dihadapan kita, kalaupun kita harus berteriak pada langit biar mereka semua tau tentang derita yang kau sodorkan dihadapanku, tetap saja itu tidak akan merubah apapun, luka tetaplah luka, kini ku hanya perlu penawarnya dan kan kucoba sembuhkan sendiri la.. jikapun ia tidak lagi bisa sempurna, biarlah saja la.. aku ikhlas untuk semua cacat hati yang engkau ciptakan…

Biarlah la.. biarlah kutapaki sendiri dan kusembuhkan luka di pulau kecil ini. La aku tidak akan kembali, seperti apa yang pernah aku katakan padamu dipenghujung musim beberapa waktu lalu, karena aku belum siap menatap wajah lembut dan sorot mata sayumu yang dulu sering mengganggu tidur malamku. Aku belum siap berjalan disetiap gunung dan lembah indah yang kerap kita datangi kala bahagia menjadi warna hari-hari kita. Aku takut terisak la, aku takut terisak dihadapanmu dan tak mampu mengucap salam untukmu, aku belum siap menjabat erat tanganmu dan memberi seulas senyum buat meyakinkanmu kalau aku baik-baik saja.. biarlah la.. biarlah waktu yang menemaniku menyembuhkan gurat luka yang terlanjur ada itu.. biarlah la.. aku menyepi disini, merenugi setiap khilaf yang pernah kuperbuat terhadapmu… biarlah la.. biarkan saja awan malam ini membuat langit itu gelap, segelap ingatanku tentang kamu…

Read More......

4/7/09

Dialog Dengan Tuhan

Begitu lemah kah sudah aku Tuhan??? Begitu tak berartinyakah semua yang telah kurancang selama betahun-tahun?? Begitukah caraku menyikapi hidup Tuhan?? Begitukah caraku menyelesaikan masalah?? Begitukah caraku mengungkapkan kekecewaaan? Begitukah caraku menggambarkan kesedihan, begitukah caraku menapaki rentang waktu yang masih Engkau sisakan?? Kenapa Tuhan, kenapa aku begitu tidak pantas dikagumi saat ini, betapa aku tidak cocok untuk dibanggakan, diharapkan bahkan dikenang oleh mereka-mereka yang telah mengajari aku tentang makna hidup yang sebenarnya.

Tuhan, aku kecewa, iya benar Tuhan aku begitu kecewa dengan semuanya, dengan sikap dan perilakunya, dengan kilah kata yang telah membuatku percaya padanya. Dengan gambaran tulus yang aku kira adalah sebenar-benarnya ketulusan. Dengan senyum lembut dan tatap manja yang aku kira adalah bias dari cinta, dengan sikap dan tindak yang terkadang membingungkan namun tidak menyisakan segudang keraguan.

Ah.. sekian waktu kulalui dalam jarak yang kian kentara ketika bentang jalan itupun terasa sampai dipenghujungnya kini. Tuhan, badai itu datang,

Tuhan betapa sulitku menerima kenyataan ini, Namun Tuhan hamba percaya kalau setiap ketentuan adalah bagian dari kuasaMU. Bahwa apapun yang berlaku saat ini terhadapku adalah sesuatu yang telah Engkau gariskan terjadi terhadapku, hambaMu. Tapi Tuhan, jika boleh hamba memohon, tolong kuatkan hamba ya Tuhan, bukakan mata hamba ya Tuhan, bukakan hati hamba untuk memberi sebenar-benarnya maaf. Bukankah Engkau saja pemaaf, lalu kenapa aku hambamu yang kecil ini tidak bisa Engkau karunikan sifat pemaaf Tuhan??

Tuhan, inikah sakit yang sebenarnya?? Ini kah kecewa yang sebenarnya?? Inikah kelemahan yang sebenarnya?? Inikah ketidakberdayaan yang sebenarnya?? Bukankah Engkau menciptakanku sempurna Tuhan?? Bukankah Engkau telah membekali aku dengan akal fikir dan hati yang suci Tuhan, bukankah aku salah seorang hambaMu yang tidak pernah lelah untuk menghadapi uji dan cobaMu?? Lalu kenapa hari ini aku seperti tidak siap menerima coba itu Tuhan??

Tuhan, lagi-lagi hamba merasa coba ini datang pada saat yang tidak tepat?? Namun, aku percaya Tuhan kalau Engkau maha tahu dan Engkau lebih tahu kalau aku kuat tuk hadapinya Tuhan..

Tuhan jika boleh hamba berharap, hamba mohon ya Tuhan berilah hamba kekuatan dan kejernihan hati untuk hadapinya. Dan semoga Engkau kembalikan segala fikir positif hamba atas mereka yang telah membuatku tertatih dan hampir berhenti untuk melangkah Tuhan..

Tuhan, Aku telah memaafkannya, jauh sebelum dialog ini kusampaikan kepadaMu, hanya saja aku merasa belum cukup ikhlas untuk memberi sebenar-benarnya maaf Tuhan, karenanya, hamba mohon ampun Tuhan untuk semua khilaf dan ketidakberdayaan hamba…

Read More......

4/6/09

Hilang

Ungkap Ragu di January 30, 2009 lalu

Ada yang hilang, namun entah apa. Aku juga tidak bisa memastikan itu apa. Ada yang dipaksakan sepertinya, dipaksakan untuk dinikmati, dipaksakan untuk dijalani. Benarkah? Entahlah.


Perjalanan inipun serasa seperti perjalanan dengan penuh pertimbangan dan perhitungan, seperti sesuatu yang hanya akan menjadi masa lalu dikemudian hari, ini tidak akan pernah terulang semuanya akan terlewat dan usang tanpa bekas dan hanya akan menyisakan seulas senyum yang sulit untuk diketahui maknanya apa. Di sisi lain, semuanya terlihat begitu biasa, perbedaan itupun semakin tampak dan sulit untuk diterima antara kita, aku beda, demikian juga dia, dia begitu beda dan sulit kupercaya kalau ini adalah wajah yang sebenarnya. Entahlah, mungkin ada baiknya jika ku memilih untuk tidak berfikir terlalu banyak. Akan lebih baik jika ku coba kujalani apa adanya, tapi benarkah tindakan yang sedang ku ambil saat ini??

Paling tidak ini pernah menjadi mimpi dalam tidur yang panjang, pernah menjadi pengharapan yang tertunda berbulan-bulan lamanya, namun kenapa begitu mimpi ini nyata, aku tidak menikmatinya sama sekali? Mungkin inilah yang dikatakan oleh Tuhan "sesuatu yang kita anggap membahagiakan belum tentu realitanya akan demikian, sebaliknya sesuatu yang kita anggap akan menjadi beban yang sulit kita bawa, justru akan menjadi rahmat yang tak ternilai harganya".

Di sisi lain, sikap yang begitu biasa sulit kuterjemahkan ini bermakna apa, sepertinya begitu banyak yang disembunyikan dan aku tidak perlu tahu apa itu, aku selalu terombang ambing dalam keragu-raguan akan apa yang ia rasakan padaku, namun aku juga tidak tahu apa itu penting bagiku atau tidak? Mungkin ia sulit menerima realita yang sedang berlaku saat ini, ia tidak bisa menerima begitu saja kalau kenyataan yang sedang dihadapinya saat ini adalah seperti ini, entahlah..

Read More......

3/31/09

Nasihat untuk Hati

Dia Ada kadang juga tiada
Dia datang kadang juga pergi
Anehnya,, Dia datang ketika ku berharap dia tidak akan pernah datang lagi
dan, Dia pergi ketika ku berharap dia muncul dihadapanku

Inikah namanya coba??
Kala hati kita selalu diuji oleh satu kata yang disebut "gundah"?
Agar kita bisa berdamai dengan rasa
Yang muncul sesuka hatinya

Inikah namanya rasa??
Ia menuntut untuk selalu diperdulikan
Muncul disaat kita tidak butuhkannya
dan pergi disaat kita begitu merindunya

Dan dalam situasi ini,
Hanya ada satu jalan yang mampu membuat kita berdiri tegak
disegala kondisi yang kerap datang silih berganti
yaitu mencoba menghitung setiap detak denyut nadi yang merupakan karunia yang harus
termanfaatkan secara sempurna untuk berbuat kebajikan

paling tidak kita mampu mengisi rentang waktu dengan segala laku yang bermakna
agar ia tidak terhabiskan dengan sia-sia
Meski kita tidak bisa berbuat untuk mereka
paling tidak kita masih bisa memanfaatkannya untuk proses perbaikan diri
ke arah yang lebih baik lagi
semoga
............

Read More......

3/30/09

Sisa-sisa Kebersamaan

Banyak hal yang membuatku bingung sekarang, perjalan ini seakan akan segera berakhir. Kita sudah mencoba menyelamatkannya dengan susah payah la, namun sepertinya kata yang terlanjur menoreh lara sepertinya terlalu mendalam hingga takkan pernah tersembuhkan. Sikap yang terlanjur menuai dusta, sepertinya tidak akan pernah terhapuskan, duka yang terlanjur bersemayam dihari-hari kita beberapa minggu terakhir sepertinya masih enggan untuk pergi dan berganti dengan harapan bahwa keadaan ini akan segera berubah.

Sepertinya tidak la.. itu semua tidak akan pernah berubah,

akupun demikian adanya, kepercayaan yang terlanjur terkhianati sepertinya tidak akan pernah kembali dan pulih seperti semula. La.. Jikapun semuanya harus tenggelam, biarlah ia tenggelam secara berlahan.

Jikapun perjalanan ini akan hilang seiring berjalannya waktu, semua sudah kuikhlaskan la.. karena sepertinya tidak ada gunanya kita selamatkan semuanya. biarkan saja la.. biarkan waktu yang menjawab segalanya,, dan biarlah hanya hati kita yang tau sebanyak dan sebesar apa kita mencinta satu sama lain.

Jikapun itu semua diungkapkan sepertinya hanya seperti hembusan angin yang menyejukkan sesaat, namun tidak lagi berbekas dan tinggal didasar hati yang mampu menggetarkan sanubari kita, hingga kesyukuran terpanjatkan kehadiratNya bahwa betapa kau menyanyangi aku dan betapa banyak pula aku menyayangi kamu.

Sudahlah la.. Biarkan cerita itu menjadi dongeng senja sebagai bertanda akan datangnya malam, biarlah semua tentang kita menjadi sebuah rangkaian kenangan yang mengharubirukan setiap telinga yang mendengarnya nanti, ketika hari sudah berganti, dan ketika tenggorokkan ini tidak lagi terasa sakit mengingat setiap bait kalimat yang membuat komunikasi kita kian erat dulu…

La, Aku memang benar-benar mendapatimu beda, beda seperti Nala yang kukenal dipenghujung 2 tahun silam. Nala yang tampil apa adanya, Nala yang telah datang sebagai pengisi hari kala aku butuh seseorang untuk menemani.

La, mungkin perjalanan ini akan kupanggil sebagai sisa-sisa kebersamaan, kebersamaan yang kita paksakan untuk kita jalani, kita sudah saling melukai, walau kita sudah saling memaafkan, namun sepertinya kita belum cukup ikhlas menerima segala khilaf yang kita perbuat itu. Aku belum cukup ikhlas memberimu kepercayaan atas hari yang kau jalani, pun kamu tidak cukup ikhlas menjalani kebersamaan kita lagi.

La, itu semua terbaca dari setiap kalimat yang kau kirimkan untukku. Tampak semuanya seperti dipaksakan semuanya la, membalas dengan terpaksa, menjawab dan menanyakan keadaanku dengan terpaksa. Tidak ada lagi kesan kehangatan disana la..

La, katakan!! Siapa yang telah memaksamu untuk melakukan semua ini, la bukankah berulang kali ku katakan padamu la,, tinggalkan saja aku sendiri.. pilihlah langkah yang kamu rasa akan berakhir dengan indah, lihatlah langit-langit kala dipenuhi bintang kala kau berjalan bersamanya, dan ingatlah hari-hari yang kau habiskan denganku, aku hanya bisa membuat matamu basah, aku hanya bisa membuatmu merasa bersalah, aku bukan siapa-siapa la, aku terlalu biasa buat orang seperti kamu la, aku terlalu lemah buat menjadi pelindung di kala kau membutuhkan pelindung, aku hanyalah si pencipta luka yang tidak akan berarti apa-apa, aku hanyalah si manja yang akan membuatmu jengah menghadapi kebersamaan kita, aku hanyalah manusia penuh masalah yang tidak akan pernah mampu menjadi pendengar setiamu kala kau membutuhkan itu, aku hanyalah si mentari redup yang ditutupi kabut, si bulan yang hadir di musim hujan, si bunga yang tumbuh di musim kering kerontang, aku hanya bisa menyempurnakan warna gelap yang menghiasi hari-harimu.

Karenanya, biarkan semuanya berlalu la.. kalaupun kita tidak mampu membuatnya berlalu dalam waktu singkat, biarkan hati kita setiap saat dibasahi dinginnya sikap, sehingga bila tiba waktunya semuanya akan jadi beku la.. biarkan saja la beku seperti sediakala, kala aku belum menemukanmu..

Thanks ya la untuk kehangatan sesaatnya…

From 53M30N3 to 53M30N3

Read More......

3/26/09

Jawab atas Penantian

Sudahlah apapun jawabanmu itu sudah tidak penting lagi sekarang, jikapun itu jawaban yang membahagiakan, sama saja itu sudah tidak berarti bagiku. Jikapun itu jawaban yang mengecewakan, akupun sudah tidak perduli lagi. Toh, semua sama saja, engkau telah membuatku bosan dan kelelahan dipenantian panjang ini.

Sudahlah aku kira waktu yang aku berikan sejak penghujung senja tanggal 26 bulan lalu itu cukup untuk kamu menentukan segalanya, harusnya waktu yang hampir 1 bulan itu cukup untukmu menentukan arah dari perjalanan kita, waktu yang relative panjang itu cukup untuk kamu menentukan pilihan mana yang terbaik untuk kamu ataupun untuk kita. Tapi apa?? Nyatanya engkau membiarkan aku terombang ambing seperti kapal yang kehilangan nakhodanya.

Sudahlah apapun alasanmu, tetap saja itu tidak berarti lagi, aku benar-benar lelah, aku benar-benar kehilangan telah ditinggalkan oleh waktu yang begitu jauh. Kamu tau?? Aku menghabiskan waktu begitu banyak hanya untuk menunggu semua ini, aku habiskan begitu banyak tenaga buat menerima kenyataan terpahit yang akan keluar dari bibir manismu, ku siapkan seribu kemungkinan untuk membuatku tetap tegar jikapun engkau bermaksud membuatku terluka lebih dalam dan terpuruk lagi. Tapi apa, kau hanya diam tak bergeming.

Kini semuanya sudah tidak penting buatku, kini semuanya biarkan saja tenggelam, biakan saja semua diterbangkan oleh badai yang datang beserta halilintar dipermulaan malam, biarlah gemuruh angin malam ini mampu membuat semuanya terkoyak, terhempas, seperti apa yang telah engkau perbuat terhadapku, biarlah semuanya hilang bersama pekat yang membuat hati semakin tersayat ketika mengingat semua nada bicara yang manis dan penuh manja namun semuanya hanya ketulusan yang dibalut dengan kepalsuan.

Sudahlah, biarkan angin malam ini menjelang tanpa tatap kagum kita kala menyaksikan bergantinya hari menjadi malam, biarkan mentari beranjak meninggalkan senja dan malam pekat menjelang tanpa kehadiran sang rembulan lagi, biarkan aku tetap duduk di tempat ini, mengubur segala asa dan kenangan yang terlanjur terukir di perjalanan kita. Biarkan aku hilang bersama pekat dan hembusan angin malam yang membuat tubuh mungilmu bergetar kedinginan.

Sudahlah, kini tidak ada yang tersisa, bawalah semua yang telah kutitip dihatimu, jikapun kau tidak menginginkannya, terbangkan ia dan buang ditempat yang engkau suka atau biarkan ia pergi terombang ambing tanpa harus tau arah perjalanannya kemana..

Selamat berbahagia untuk engkau sang pembuat luka, selamat menempuh perjalananmu di dunia selanjutnya, apapun yang telah kau perbuat terhadap bahagia kita, mimpi kita, tawa kita, kebersamaan kita, kan ku anggap itu semua sebagai mimpi buruk di kala tidur malamku.

Kini akupun harus beranjak dan berlalu dari kepenatan ini, kini akupun harus menelan kepahitan yang kau sodorkan dengan paksa dihadapanku, karena kalaupun aku telah membiarkanmu merusak dan melukai hatiku, namun ketahuilah, aku tidak akan pernah membiarkanmu untuk merusak mimpiku, aku tidak akan pernah membiarkanmu membuyarkan segala kebanggaan atas hari-hari yang telah dan akan kulalui diperjalanan sebelum kau ada dan berikutnya.

Selamat tinggal sang pecipta luka hati!!

Read More......

3/22/09

Catatan Perjalanan di Winter Break (Bagian I)

19 Januari 2009
Perjalanan ini bermula pada tanggal 19 Januari 2009 yang lalu, setelah menghadapi final exam yang sedikit melelahkan fikiran dan fisik, yang pada akhirnya Alhamdulillah semester ini dapat kulewatkan dengan baik. Meski masih ada beberapa tindakan yang perlu dievaluasi di kemudian hari.

Kala itu pukul 4 pagi, bertolak dari kampus menuju bandara di kota Dao Yuan yang harus ditempuh selama kurun waktu 1 setengah jam perjalanan. Diantar oleh mobil yang disediakan kampus, bersama salah seorang teman yang juga akan bertolak menuju kampung halamannya di Malaysia. Ketika itu, kondisi fisik yang sedikit lelah (namun aku rasa cukup fit untuk melakukan perjalanan jauh) karena pada hari sebelumnya kuhabiskan untuk berjalan-jalan di kota Taipei, berkunjung ke Underground Mall, Eslitte Book Store, Taipei 101, dan terakhir ke Taipei Night Market, pulang dan tiba di rumah sudah pukul 11 malam. Dilanjutkan dengan persiapan pulang yang memakan waktu beberapa jam, dan hingga akhirnya bertolak kebandara.

tepat pukul 7 pagi, alhamdulillah aku mobil yang mengantar kami tiba di bandara Tao Yuan, akupun memutuskan untuk segera mengambil boarding pass dan langsung check in, di hati timbul sedikit kekhawatiran, karena baru kali ini aku melakukan perjalanan jauh sendiri, perjalanan-perjalanan sebelumnya selalu ada teman yang setia mendampingi. Namun liburan kali ini, ia memutuskan untuk tetap tinggal di Taiwan, dan tidak mau kembali ke tanah air.

Tiba di ruang tunggu, kegundahanku berangsur-angsur menghilang, karena ternyata aku tidak sendiri begitu banyak TKI yang akan berpulang ke tanah air, dan mereka mengajakku komunikasi sepanjang waktu penantian kami di ruang tunggu itu. Mendengar cerita-cerita mereka, segala rasa berkecamuk di ruang fikirku, ternyata mereka-mereka ini adalah perempuan-perempuan tangguh, yang menjalani kepahitan hidup di negeri orang, namun tetap semangat, bersyukur dan bahagia atas segala ketentuan Allah yang sudah digariskan di tangan mereka. Ya Allah, terima kasih atas nikmat dan karuniaMU atas hambaMU ini, ternyata aku masih lebih beruntung dibandingkan mereka, akan tetapi begitu kecil nilai kesyukuran yang kupanjatkan atasMU ya Allah.

Tepat pukul 9 pagi, pesawat yang aku tumpangi bertolak menuju Jakarta, dan Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar dan pesawatpun landing di bandara Soekarno Hatta tepat pukul 13.30 siang wib. Disana aku telah ditunggu oleh adik tercinta yang bersedia menemaniku selama beberapa jam hingga akupun harus melanjutkan perjalanan menuju Medan pada pukul 16.30. sewaktu di ruang tunggu sempat bertemu dengan salah seorang ikhwah yang baru saja selesai pelatihan di Jakarta. Beliau salah seorang senior di organisasi keislaman yang bergerak untuk menghidupkan kegiatan keagamaan di kalaman ibu-ibu di desa-desa.. (hmm salut buat beliau).

Tepat pukul 20.30 aku tiba di Polonia Medan dan segera menghubungi stasiun bus yang menuju kampung halaman tercinta. Namun sayang sekali, aku terlambat beberapa menit, ternyata bus udah berangkat semua, dan mau tidak mau malam itu aku harus bermalam di medan. Akhirnya kuputuskan untuk menginap di Hotel daripada harus bermalam di rumah sanak family, karena aku tidak mengabari mereka kalau aku akan pulang, jadi gak enak aja kalau tiba-tiba nongol di depan pintu rumah mereka.

Bermalam di hotel, terasa sendiri, apalagi kerinduan akan orang-orang terdekat mulai mencapai klimaksnya, akhirnya kuputuskan untuk berkomunikasi via handphone dengan orang-orang terdekat, tepat pukul 01.00 dini hari akupun terlelap dan terbangun ketika waktu subuh menjelang.


20 Januari 2009
Selamat pagi medan, akhirnya aku tiba lagi disini, ucapku menatap jauh dari jendela hotel dan memandang jauh disana, hamparan gedung-gedung yang tidak jauh beda dari 7 tahun yang lalu, ketika itu aku begitu menyukai kota ini, dan begitu merindukannya ketika aku berada di tempat lain. Namun kali ini, kesan itu lambat laun hilang, dan semuanya terkesan biasa saja, akupun mulai merasa bosan berada di kota metropolitan, aku lebih menyukai tempat yang tenang, dan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

Setelah beberapa saat memandang ke hamparan gedung-gedung yang bisa kusaksikan dari jendela hotel yang kutempati, mengenang saat-saat ku masih berada di kota ini 7 tahun yang lalu, berjalan sendiri menyusuri trotoar di sore hari, bermimpi kalau aku juga bisa sama seperti mereka, berkuliah di universitas terkemuka di kota ini, berjuang menentukan nasib kelanjutan pendidikanku waktu itu. Hingga akhirnya Allah memberiku tempat yang berbeda, dan aku bersyukur kala itu, meski di awal-awal terasa begitu sulit untuk dijalani, karena mimpi tergantikan dengan yang lain. However, ku tetap berucap syukur atas segala ketentuanNYA.

Pukul 9 pagi setelah sarapan di hotel, duduk sesaat membuat planning apa yang harus aku lakukan untuk menunggu waktu kepulangan pada sore harinya (bus menuju ke kota kecil, kota kelahiranku hanya ada pada malam hari.. aneh memang), akhirnya kuputuskan untuk berkunjung ke beberapa tempat favorite ku di kota itu.

Mencoba menjelajah sendiri di beberapa pusat perbelanjaan di sana, hunting makanan favorite, mencari koleksi parfum dan beberapa keperluan lainnya. hingga akhirnya kuputuskan untuk nongkrong di toko buku, tempat favorite kala aku bosan dan suntuk menjalani hari. Kusempatkan membeli 3 buku yang duanya akan kuhadiahkan buat seseorang yang selama ini sering berbagi tentang kesehariannya. Buku yang kurasa bisa mengurangi rasa pesimisnya dan mengurangi kegundahan yang selama ini kerap hadir di hidupnya. Setelah buku untuknya kutemukan, akhirnya kuputuskan untuk mencari beberapa buku yang aku perlukan. Sayang sekali buku yang aku inginkan tidak kutemukan disana, berjalan pelan-pelan menyusuri setiap koleksi buku-buku yang tersedia di toko itu, matakupun tertumpu pada barisan buku yang diperuntukan bagi pemeluk agama budha. Ku coba mengambil beberapa judul yang membuatku penasaran akan isinya dan kucoba membaca bagian-bagian tertentu. Akhirnya kuputuskan untuk membeli salah satu buku yang berjudul "Sehari sepatah kata - Kata Mutiara Kehidupan Manusia" karangan Sheng-yen Lu. Sebuah buku yang mengajarkan kesederhanaan, tawakal atas ketentuan Tuhan, mengingat segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan, dan sebagai Makhluknya kita hanya dituntut untuk menjalankan dengan sebaik-baiknya tanpa keluh kesah dan protes, menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah milikNYA. Mensyukuri setiap ketentuan baik, dan berusaha menerima ketentuan buruk, itulah sepintas isi dari buku ini.

Ketika berada di meja kasir, salah seorang karyawan di toko tersebut mencoba menanyakan kembali apakah aku benar-benar mau membeli buku tersebut. Wajar saja dia protes, karena tuch buku emang diperuntukan bagi umat beragama budha, kenapa aku yang nota benenya muslim juga membeli tuch buku. Alasanku hanya karena bahasanya yang ringan, dan mudah difahami isinya. Selama bisa menambah pengetahuan, aku fikir tidak ada salahnya.

Pukul 4 sore, aku memutuskan untuk kembali ke hotel, dan bersiap check out dan pergi ke stasiun bus yang menuju kampung halaman tercinta. Pukul 8 malam mobilpun bertolak menuju kampung halaman dan alhamdulillah di jalan tidak ada rintangan apa-apa. Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menjagaku selama dalam perjalanan yang harus kutempuh sendiri di malam ini.

21 Januari 2009
Pukul 11 pagi, aku tiba di kampung halaman tercinta, negeri yang sejuk yang telah membuatku banyak bermimpi dan bersemangat untuk berubah. Tiba di depan rumah, kudapati rumah kosong, tidak ada 1 orangpun disana, maklum penghuni rumah yang dulunya ramai sejak saudara-saudaraku belum menikah, dan akupun masih sekolah di kampung kala itu, sekarang hanya dihuni oleh kedua orang tua dan adik bungsuku. Hari kedatanganku, kedua orang tuaku sedang pergi melayat sepupu yang meninggal tadi malam, meninggal karena sebab yang menyisakan penyesalan disetiap orang terdekat yang ditinggalkannya. Meninggal karena mencoba mengakhiri hidupnya dengan cara yang ditentang oleh agama, meminum cairan pembersih lantai (entah disengaja atau tidak) dan akhirnya meninggal setelah dirawat selama 1 minggu dirumah sakit di kota kelahiranku. Ya Allah, ampunkan dosanya, dan tempatkanlah ia disisiMU.

Alhamdulillah, setelah menunggu 30 menit, kedua orang tuaku tiba di rumah, Ya Allah inilah kebahagiaan yang tak tergambarkan, Engkau masih memberi hamba kesempatan untuk bertemu kedua orang tua hamba dan Engkau masih mengaruniai keluarga hamba kesehatan, terima kasih ya Allah, sesungguhnya inilah kesyukuran terbesar hamba atas karuniaMU.

Bercerita panjang lebar, dengan kedua orang tua, setelah melakukan ibadah zuhur keluarga besar mulai berdatangan kerumah, sekedar menyapa dan nanyain kabar tentang keberadaanku selama di negeri orang. Sore itu, rasa lelahku mulai tidak bisa ditolerir lagi, dan mata inipun mulai sulit untuk ku buka, akhirnya aku mohon izin pada pada mereka semua untuk istirahat sesaat.

Malam harinya, setelah menikmati makan malam bersama keluarga besar, akupun tertidur pulas disamping ibunda tercinta. Terima kasih Tuhan, untuk nikmatMU hari ini.

22 Januari 2009
Terbangun di pagi hari, berbahagia karena aku terbangun dan berada disebelah ibunda tercinta, menghirup udara pagi kampung halaman tercinta, melaksanakan rutinitas seperti biasa kala berada di kampung halaman, dan mencoba menikmati hari ini di rumah sendiri. Karena kedua orang tua akan pergi ke tempat saudara yang akan mengikuti persidangan hari ini, atas kasus yang menjeratnya. Berharap segalanya akan terungkap dengan jelas, dan peradilan yang diberikan kepadanya adalah peradilan atas hukum Tuhan, bukan hukum buatan manusia yang bisa dirubah kapan saja sesuai keinginan orang-orang yang ber-uang.

Siang hari, kuputuskan untuk menemui sahabatku, sahabat dari kecil yang sampai hari ini masih sangat dekat denganku, sahabat yang selalu nanyain kabar atas kepulanganku ke kampung halaman, menghabiskan waktu siang bersamanya bercerita tentang banyak hal, tentangku, tentangnya dan tentang sahabat yang lain yang saat ini sudah menyebar dibanyak tempat. Sore harinya kami habiskan bersama dengan menyusuri jalan sepanjang perbukitan indah yang kerap dilalui anak muda yang menikmati waktu senggangnya, kamipun bercerita sepanjang jalan, mengenang saat-saat dulu waktu kami masih sering bersama, dan akhirnya memutuskan untuk berhenti disebuah kafe dilereng bukit indah yang banyak dikunjungi. Bercerita tentang banyak hal, hingga tanpa sadar waktu magrib hampir menjelang, akupun memutuskan untuk mengantarnya pulang dan akupun pulang menuju rumah tepat sesaat sebelum azan berkumandang.

23 Januari 2009
Pagi ini aku harus mengantar adik tercinta kesekolah, karena motornya akan aku pakai, aku harus mengunjungi saudara yang saat ini sedang tertimpa musibah, setelahnya aku harus mempersiapkan keberangkatanku menuju kota perjuangan, tempatku menimba ilmu 2 tahun yang lalu, karena aku harus melaksanakan beberapa pekerjaan disana dan menemui orang-orang yang kerindukan dan kerap hadir dihari-hariku selama di negeri orang.

Pukul 15.30 aku dijemput dari rumah menuju stasiun, kemudian kusempatkan singgah dirumah sepupu dan sempat ngobrol beberapa saat disana dengan sepupu yang lagi ngumpul dirumah itu. pukul 16.00 akupun pamit untuk melakukan perjalanan menuju kota banda, kota kenangan, kota yang mendewasakanku, kota yang telah mengajarkanku tentang banyak hal.

Pukul 18.00 mobil yang aku tumpangi tiba di kota Takengon, kota yang dikenal karena keindahan laut tawarnya, kenikmatan kopi gayonya dan kesejukan udaranya yang membuat siapa saja berkunjung kesana akan merindukannya dan berkeinginan untuk berkunjung kembali.
hingga akhirnya perjalananpun berlanjut menuju kota-kota berikutnya, hingga akhirnya aku tiba di kota banda.

Read More......

1/11/09

Surat Untuk Sahabat

Sahabat dunia dan Akhiratku…..
Hari ini dan ketika aku masih diberi kesadaran untuk meminta maaf padamu dan berucap ampun pada Allah SWT. Izinkan aku untuk memohon maaf dari hati dan kesadaranku. Maafkan aku yang selama ini selalu memberikan pandangan yang selalu kau ikuti, maafkan aku yang selalu memberikan pandangan rasa kekecewaan yang mendalam atas laku orang-orang disekitar kita selama ini.

Maafkan…………
Maafkan sahabat…
Sesungguhnya aku hanyalah seorang daif yang tidak seharusnya selalu kau turuti, hanyalah seorang yang bodoh yang sekali-kali pantas untuk kau ingatkan. Seorang yang sudah terlalu banyak menghadapi kepahitan hidup sehingga seakan ketika kuhadapi keadaan yang sama, seakan semuanya terbayang dengan jelas dihadapanku, padahal aku tidak seharusnya begitu, mendahului segala kehendak Allah.

Sahabatku, Aku tau kamu orang baik
Aku tau kamu punya kejernihan fikiran, sangat berbeda denganku
Karenanya,
Akan sangat wajar bila engkau ingatkan ketika aku khilaf, ketika aku marah,
Tidak seharusnya kulakukan itu, karena Allah selalu akan membalas segala laku yang mereka berbuat terhadap kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah kesyukuran atas segala nikmat dan karuniaNYA, dan memohon kekuatan atas segala derita dan kepahitan hidup yang kita hadapi selama ini.

Sahabatku, aku tau engkau lebih baik dan lebih bisa berfikiran jernih atas segala masalah yang ada dihadapan kita selama ini. Sahabatku, kita akan selalu kuat ketika kita selalu mengingatkan dalam hal kebaikan, kita juga akan selalu mampu menghadapi semua ini ketika Allah mengirimkan engkau padaku untuk menemani langkah yang sulit ini. Demikian juga halnya Allah telah mengirimkan aku untuk selalu berada di sampingmu ketika engkau susah, ketika kita susah.

Sahabatku, bukankah niat kita untuk berada di tempat ini untuk merubah hidup kita kejalan yang lebih baik?? Karenanya aku percaya sahabatku, Allah akan tunjukan jalan untuk kita selama kita tidak lupa untuk memohon pertolongan dariNYA. Bukan malah meminta pertolongan dari hambanya yang sama lemahnya dengan kita.

Sahabatku, aku begitu bersyukur berada bersamamu dalam segala rasa susah dan senang kita, dalam segala masalah dan kebahagiaan kita, dalam segala sedih dan tawa kita. Aku bersyukur pada Allah atas segala nikmat yang iya kirimkan lewat orang-orang yang tidak pernah kita sangka sebelumnya.

Sahabatku, saatnya kita meyakinkan diri, menyerahkan semuanya pada Allah, Allah pasti akan memberikan jalan untuk kita, lupakan segala masukkan yang pernah ku sampaikan hingga mengotori fikiranmu, maafkan aku, aku tau fikiranmu sangatlah jernih, biarkan aku membasuhnya dan mengembalikannya ke kesucian semula. Sahabatku jangan lagi mudah terpengaruh terhadap fikran-fikiran yang aku utarakan yang mendahului kuasa Allah, ingatkan aku sahabatku jika kelak aku mengulanginya kembali.

Sahabatku, biarlah di hati kita hanya ada Cinta, Maaf, Perjuangan, Keikhlasan, Kerendahatian, Keramahtamahan, Senyum, Rasa syukur, dan Semoga Kita siap menghadapi apapun yang Allah tentukan untuk kehidupan kita esok, Semoga kita mampu menjalani setiap peran yang telah disusun oleh sang sutradara yaitu Allah SWT.

For My Lovely Friend
(It must be I post several month ago) :)
Today, everything has been better than before already.
But, Please.. Allow me to put it here, key :)

Picture source: http://www.hotprofilegraphics.com/

Read More......

An Introvert - Nasihat Untuk Hati

Apa yang terjadi denganku, kenapa aku begitu egois terhadap diri sendiri, kenapa aku tidak pernah memperdulikan logika yang sering meronta?? Kenapa aku hanya perduli dengan hati, kenapa hanya ia yang menginginkan untuk dipenuhi kebutuhannya.. Kasian logika, sudah lama ia dinomorduakan, sudah lama ia dibiarkan diam dan tak mampu melawan keinginan hati yang selalu berteriak menuntut untuk selalu diperhatikan dan dimanja.

Kasian logika, yang kali ini sedang menuju masa kegelapannya, karena ia tidak dipekerjakan secara sempurna, kini lorong gelap mulai hadir dan menyertai langkahnya, kasian logika karena kali ini ia tidak mampu bekerja optimal karena selalu kalah untuk bersaing dengan hati yang selalu mendahuluinya, kenapa??

Sampai kapan hati?? Sampai kapan engkau akan mencoba menyingkirkan fungsi logika yang sebenarnya sangat kubutuhkan untuk selalu bersanding denganmu, memenuhi kewajiban kalian berdua agar jalan yang aku lalui seimbang. Kenapa kalian selalu berselisih?? Apa salahku sehingga kalian tidak mau berdamai?

Hati, saat ini aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu lagi, aku tidak bisa membiarkanmu mengombang-ambingkan logikaku, karena aku memerlukan kalian berdua untuk bekerjasama dengan kompak, agar segala tujuan dapat tercapai sesuai keinginan dan cita-cita kita. Sudahlah, tidak ada gunanya lagi kita terus-terusan berdiskusi untuk hal-hal yang tidak penting, saatnya kamu instirahat hati. Aku tau kamu kelelahan, aku tau kamu sedang tidak bisa berlaku sempurna sesuai keinginanku. Aku tau banyak hal yang sudah membuatmu semakin lemah dan semakin kehilangan arah. Ku akui hati, kadang aku lupa memberimu vitamin, sehingga engkau kelihatan kurang ceria, kadang aku memberimu berlebih, sehingga itupun membuatmu bertanya-tanya kenapa aku tidak bisa commit untuk memberi takaran yang sesuai dengan apa yang engkau butuhkan. Entahlah hati, aku benar-benar minta maaf untuk semuanya, minta maaf atas lalaiku dalam memberi nutrisi yang sebenarnya sangat engkau butuhkan.

Tapi, please mulai hari ini dan hari-hari berikutnya, jangan ngulah lagi yach!! Berdamailah.. berdamailah dengan logika, agar kalian berdua mampu membuatku berdiri dan berjalan seimbang, agar segala fungsi yang ada di diri ini akan bekerja sempurna jika kalian berdua mau bekerjasama, dan tidak ada yang saling mendahului lagi. Agar semua yang kita jalani akan terlaksana sesuai rencana.

Hati, tidak perlu lagi memikirkan hal-hal yang tidak berguna, hakikat hidup kita adalah kesendirian, maka berusahalah untuk menikmati dan menjalani semuanya sendiri, segala halang dan rintangan yang ada dihadapan kita, kita coba hadapi bersama yach! Kita tidak perlu melibatkan siapa-siapa untuk mencapai segala yang kita inginkan.

Hati, biarlah dialog ini berakhir disini, kali ini aku mohon dengan sangat untuk pengertianmu, berhentilah memikirkan hal-hal yang ada diluar sana, karena saat ini kita punya tugas berat yang mesti segera kita kerjakan dan kita selesaikan. Tidak perlu lagi memikirkan hal-hal yang ada diluar sana, karena mereka hanya akan membuat jalan kita menjadi tertunda.

Hati, penghormatan diri sendiri akan berimbas pada penghormatan terhadap orang sekitar dan lingkungan kita, maka dari sekarang hormatlah dan hargailah dirimu sendiri, hargailah teman seperjalananmu, yaitu logika, karena kamu tidak akan mampu berjalan tanpa dia , berdamailah kalian berdua yach…

Kau datang menyejukkan diriku, menikam hatiku, detak jantungku, sesungguhnya ku tak inginkan dirimu, di tempat ini. dipelupuk hatiku melupakanmu, dipusara jiwaku pernah ku memiliki kisah tersembunyi dalam hidupku.
Mengapa kau harus datang disini, malam ini, tak bisa aku hindari
Maafkan bila kumenafikkanmu, bukan saatnya dan bukan waktunya (quote from Padi)

Gambar: Myspace.com

Read More......

1/5/09

Cerita tentang Awan

Tuhan, terima kasih atas jawaban doa yang kupanjatkan di akhir sujud malamku, Tuhan terima kasih untuk telinga yang selalu Engkau sediakan untuk mendengarkan rintihan, kesedihan dan pintaku. Lagi-lagi aku begitu lemah dihadapanMU, aku begitu merasa kecil dan merasa belum cukup untuk berterima kasih untuk semua perhatian dan jawaban doa-doa yang Engkau berikan.

Tuhan, saat ini dia telah memaafkan aku, dan aku merasa itu lebih dari cukup Tuhan, Alhamdulillah untuk semua ketentuan yang Engkau berikan atasku.

Ya Allah aku yakin sepenuhnya jika Engkau akan memberikan yang terbaik buat hambamu, bukan yang terbaik dimataku, karena pandanganku bisa saja salah, sementara Engkau tidak pernah salah…

Kamu memang telah jauh wan, masih terdengar suara ketika kau ucapkan rindu walaupun dihatimu sudah tiada aku. Karena aku masih begitu merindumu, dan aku tak mampu merubahnya. Sesungguhnya kaulah yang aku inginkan tapi kita tidak bisa berjalan bersama, terlalu banyak pandangan yang berbeda, terlalu banyak sakit yang telah tercipta, namun rasa ini harus juga tenggelam di relung hati, dan aku tak mampu mengambilnya lagi dan meletakkannya ke permukaan, biar gelombang yang datang menghempasnya dan membawa namamu pergi ke laut luas. Lalu ku mencoba memohon pada angin, agar hembusannya yang kencang mampu membawa sebait nama itu dari hati ini, namun terang saja angin juga tak mampu melakukannya untukku. Ia sudah begitu melekat dan terukir indah di sana, di sisi hati yang seharusnya ku biarkan kosong, hingga akhirnya Tuhan mengirimkan nama yang benar-benar tepat untuk memiliki sebentuk hati itu. Lalu akupun berteriak pada awan, semoga gumpalannya yang berubah jadi hujan yang deras, akan mampu membuatnya basah dan membuat nama mu menjadi samar, yang pada akhirnya akan hilang pelan-pelan. Namun ternyata awanpun enggan melakukannya untukku. Karena terlalu dalam ku menyimpannnya, terlalu indah ku mengukirnya, terlalu nyaman ruang yang tersedia untuk sepenggal namamu itu wan, hingga ia tak mau berpindah sedikitpun dan meninggalkanku sendiri. Akhirnya aku hanya mampu membiarkannya disana, biarlah ku serahkan pada waktu, biarlah waktu yang mengatur ritme irama denyut nadi, yang mungkin akan membawanya pergi bersama ku dari dunia ini.

Dan malam ini wan, aku ingin sekali menuliskan sesuatu tentang mu, tapi lagi-lagi tanganku terasa kelu, lagi-lagi kerongkonganku terasa sakit, lagi-lagi tulisan-tulisan pada layar monitor jadi berbayang-bayang dan tak tampak jelas oleh pandanganku, karena lagi-lagi air mata ini tak bosan-bosannya untuk tumpah, mengalir begitu saja tanpa diminta, kala bayang masa lalu kita harus pula terlintas di benakku.

Tapi biarlah sisa malam ini, disela rasa kantuk yang sudah mulai mengganggu jelasnya pandanganku, ku paksakan diri untuk menumpahkan semua tentang mu dan tentang kita, karena aku sudah mulai lelah untuk semuanya, lelah menjalani hari-hari karena selalu diikuti bayangmu. Biarlah sekelebat bayang, segudang asa yang terbawa bersamamu, sebentuk kenangan, segala kepahitan di perjalanan kita, canda tawa yang selalu engkau lontarkan, janji-janji yang telah teringkari sebelum tiba waktunya untuk ditepati, sebesar-besarnya maaf yang sudah aku berikan, kuurai menjadi bait-bait kata disini, semoga tidak akan bersisa lagi di rongga dada dan di ruang memori yang akan lebih pantas untuk ketempatkan sesuatu, yang berguna di sisa hari-hari yang masih disediakan olehNYA untukku.

Awan, perjalanan antara kita memang sangat singkat dan penuh dengan bahagia dan air mata. Dan kita juga telah berpisah sejak 1 tahun lamanya. Namun semuanya masih tergambar dengan jelas di benak ini, izinkanlah malam ini ku buang semuanya wan, karena aku fikir tidak ada gunanya lagi ia tinggal bersamaku, karena semuanya hanya akan membuat langkahku semakin berat untuk ku ayunkan, karena semuanya hanya membuat waktuku terbuang, yang seharusnya kumanfaatkan untuk memikirkan yang lain, dan karena semuanya seharusnya memang telahpun hilang, dan terkubur bersama pahit dan manisnya hari yang kita jalani, dan kini semuanya sudah menjadi history dari sebuah perjalanan yang kita jalani, kau dan aku.

Awan, semuanya masih bisa ku urai dengan kata, rentang waktu yang sudah kita jalani bersama. Teringat pertama sekali Allah mempertemukan kita, di sebuah toko sederhana, ketika benda kesayanganku mengalami sedikit gangguan, dan aku tak mampu mengatasinya, dan akupun harus datang ke toko itu, toko yang menjadi tempat kita bertemu untuk kali pertama. Kala itu ketika aku sedang berbicara dengan salah seorang customer services di sana, rupanya ada sepasang mata yang memperhatikanku dengan begitu seksama, hingga temanku tanpa sadar mengatakan tepat dihadapanmu. Tuch cowok lagi liatin kamu dari tadi… Yach bagiku itu biasa, aku tidak menggubris obrolan teman yang mengatakan kalau kamu sedang memperhatikan aku. Hingga akupun berlalu dari toko itu. Tiga hari berikutnya ketika si benda kesayangan telah sembuh, akupun harus menjemputnya lagi ke toko itu, hari itu aku tidak menemukanmu disana.

Pulang kerumah, akupun mencoba mengoperasikan si benda kesayangan, namun ternyata tidak ada perubahan, dia masih saja sakit dan gak bisa bekerja sempurna untuk menolongku dalam menyelesaikan pekerjaan. Hingga kuputuskan untuk kembali ke toko itu, dan setibanya disana Allah mempertemukan kita, karena rupanya hanya ada kamu di toko itu wan, dan mau tidak mau aku harus menyampaikan keluhan si benda kesayangan kepadamu. Dan hari itu aku tau kalau kamu adalah salah satu karyawan disana. Dan kamu bilang, tinggalin aja nomornya ntar klau udah selesai biar aku telephone, biar gak bolak-balik kemari, katamu. Dan akupun menyetujuinya. Keesokan harinya ketika ada sebuah program yang harus ditambahkan di benda kesayangan tersebut, aku mencoba mengirimkan pesan, dan engkau menjawab pesanku dengan sebait kalimat “Affirmative with I can” ditutup dengan sebuah icon senyuman disana. Entah kenapa kala itu aku tersenyum ketika membaca pesan itu. Namun itu hanya sementara, selanjutnya akupun terlupa dan kembali diingatkan oleh segudang pekerjaan yang harus aku selesaikan pada hari itu.

Keesokan harinya, aku menerima telephone kamu yang mengatakan kalau si benda kesayangan sudah sembuh dari sakitnya, dan kamu bisa menjemputnya sepulang dari kerja, katamu. Dan akupun mengucapkan terima kasih di akhir pembicaraan kita hari itu. Dan sore itu ketika pulang dari kerja, aku mencoba mencari seorang teman yang bisa menemaniku untuk menjemput si benda kesayangan, namun pada hari itu tidak ada seorangpun yang sedang ada di rumah, mau tidak mau aku harus pergi sendiri untuk menjemput si benda kesayangan dari toko itu. Dan sesampainya disana ketika aku ingin membawa pulang si benda kesayangan, terang saja aku tidak bisa membawanya pulang sendiri, dan engkaupun menawarkan diri untuk membantuku membawanya pulang. Dan diakhir pertemuan aku berucap terima kasih atas bantuan kamu. Itulah kali pertama pertemuan kita dipertengahan dua tahun yang lalu.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, dan engkau sudah mulai berani menyapa di kala pagi ataupun senja, dan satu masa, ketika aku berjalan bersama teman-temanku, engkau sempat menyapa lewat pesan singkat yang menanyakan aku hendak kemana, kujawab seadanya kalau aku akan menghabiskan senja di sebuah kafe bersama teman-temanku, menikmati udara sore sambil menghilangkan kepenatan setelah seharian bekerja. Dan akan pulang setelah ibadah magrib dan makan malam bersama, kala itu engkaupun mulai berani berucap canda, duch makan gak ngajak-ngajak ya, katamu. Dan aku tanggapi juga dengan keramahan ku seperti biasa aku lakukan pada orang baru yang aku temui. Iya, boleh nanti kapan-kapan kalau kita punya waktu. Ungkapku diakhir rentetan pesan singkat di senja itu.

Ternyata pesan itu bukan hanya isapan jempol semata, dua hari setelahnya tiba-tiba aku menerima pesan singkat dari kamu yang menanyakan kapan aku punya waktu luang untuk bisa bertemu dan menikmati sore, sebagaimana kebiasaan orang-orang di kota kita dalam mengisi penghujung hari setelah selesai dari pekerjaan. Dan akupun menyambut dengan hangat, kalau dalam minggu ini aku punya waktu setelah ashar dan sampai tibanya waktu magrib, kita bisa manfaatkan waktu tersebut buat ngobrol bersama sekedar mengetahui sedikit latar belakang tentang kita.

Itulah kali pertama aku dijemput lelaki setelah sekian tahun aku berada di kota ini, dengan perasaan bercampur aduk, merasa bersalah, berdosa pada pandangan yang telah aku jalani selama sekian tahun, perasaan senang dan semuanya seolah saling berebutan menuntut untuk diprioritaskan. Sore engkau membawaku ke sebuah persinggahan anak muda yang masih terletak dibilangan kota banda. Kita sempat berbicara panjang lebar, sedikit tidak menyangka kita bisa dekat secepat itu, seolah tidak ada rasa sungkan diantara kita, kita dekat tepat di pertemuan pertama, dan hari itu kita banyak bercerita tentang diri sendiri dan latar balakang kita. Dan akupun tahu kalau kamu bukan hanya seorang karyawan di sebuah toko sederhana di jalan menuju rumahku, tetapi juga masih berstatus mahasiswa tingkat akhir yang juga masih satu universitas denganku.

Menariknya ternyata kita masih satu angkatan, hanya saja aku sudah duluan menyelesaikan kuliahku sejak hampir dua tahun yang lalu. Engkau menjadi tertunda karena sempat tidak aktif selama beberapa saat karena bekerja. Begitu katamu. Dan diakhir hari itu, entah kenapa aku menemukan kekhawatiran dimatamu, kekhawatiran kalau aku akan meninggalkanmu sebelum engkau sempat mengenalku lebih jauh, kala itu aku juga sempat heran, padahal kita hanya berniat saling ngobrol sore itu, tapi entah kenapa seperti ada suatu ketertarikan diantara kita hingga bias itupun jelas terlihat dimatamu ketika kamu akan mengantarku pulang.

Begitulah kali pertama, dan seterusnya kita jadi sering komunikasi lewat pesan singkat dan telephone, tidak jarang juga bertemu menghabiskan sisa senja dan menyambut datangnya malam di berbagai tempat yang berbeda. Kita juga sering menghabiskan hari libur bersama, menyaksikan derai ombak, desiran angin pantai yang terdengar di helai daun cemara, menyaksikan canda tawa orang-orang yang kebetulan berada disekitar kita. Semua itu masih terekam dengan jelas di benak ini wan. Kala kita memulai bercerita, merancang hari depan, tentang apa yang akan kita lakukan, saling menguatkan jika salah satu dari kita sedang lemah, lelah, atau berduka. Saling mengingatkan ketika kita goyah, dan sedikit depresi dengan situasi yang kita hadapi dan peran yang kita lakoni setiap hari.

Berbagi sama rata, bercerita seadanya, saling mengenal satu sama lain lewat gerak, tingkah dan ucapan, bahkan tidak jarang kita berselisih tentang hal-hal kecil yang membuat kedekatan kita semakin erat dan seperti tidak akan terpisahkan. Semua tempat seakan menjadi saksi kedekatan kita kala itu, akupun tidak sunkan lagi berjalan beriringan bersamamu. Padahal keadaan ini benar-benar baru buat ku, sudah lama sekali aku tidak pernah membayangkan lagi bakal berjalan beriringan dengan orang yang kusebut sebagai pengisi hati. kamu begitu menghormati aku wan, kamu begitu menjaga aku, engkaupun tidak pernah perduli dengan masa lalu aku sepahit dan sehitam apapun itu, mungkin itulah sebabnya secara berlahan tapi pasti aku mulai menyukaimu, diantara sadar dan tidakku, yang sebelumnya kehadiranmu hanya kuniatkan sebatas teman biasa, hingga pada endingnya akupun begitu merasa kehilangan ketika kita harus mengakhiri semuanya.

Wan perjalanan waktu serasa kian cepat, tidak terasa kebersamaan kita sudah hampir setengah tahun lamanya, semuanya terasa menyenangkan, namun tidak jarang juga berubah menjadi menyakitkan bagimu karena egoku yang terkadang membuatmu terheran dan kelelahan menyikapinya. Kala itu mungkin engkau berfikir kalau aku hanya menjadikanmu sebagai pengisi waktu senggang, karena aku tidak pernah memperlihatkan kalau aku benar-benar sayang padamu dari sikap dan caraku menghadapimu. Entahlah wan, kala itu aku berprinsip kalau aku tidak mau bermanis-manis dengan siapapun yang menginginkanku, termasuk kamu. Karena aku hanya takut kalau semuanya tidak akan engkau dapati ketika kita sudah saling memiliki, atau karena aku masih menyisakan rasa sakit, yang disebabkan oleh kehadiran seseorang yang sempat singgah beberapa saat dihidupku, namun kebersamaan kami tidak bisa dilanjutkan karena terlalu banyak yang harus dipertimbangkan, kami hanya punya rasa dan pengertian selebihnya tidak ada yang bisa dijadikan pegangan untuk jalan bersama menjalani sisa hari yang dianugrahkan oleh Tuhan.

Wan, engkau hadir dikala aku sedang galau, galau oleh rasa yang tumbuh tanpa aku sadari kepada seseorang yang telah banyak becerita tentang kisah dan beban hidup yang ia jalani. Kala itu aku sempat menjadi temannya, mungkin terlalu banyak kepahitan yang terlanjur diperdengarkan padaku, dan juga sikapnya dalam menghadapi siapaun yang teramat manis dan tidak pernah kutemui sebelumnya, membuat rasaku tumbuh begitu besar terhadapnya, padahal itu terlarang karena perbedaan keyakinan yang pandangan membuat kami tidak mungkin mewujudkan rasa itu menjadi sebuah kebersamaan, hingga kamipun harus saling menyakiti agar bisa saling melupakan satu sama lain.

Namun sikapnya yang terlalu manis dalam memperlakukanku, membuatku menempatkan namanya diurutan teratas dari orang-orang yang pernah kutemui. Dan begitu sulit aku mencoba untuk melupakannya saat itu, aku begitu kehilangan, namun juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena kami berpisah karena ketidakmungkinan untuk jalan beriringan.

Disaat itulah wan, engkau hadir menawarkan seteguk air ditengah dahagaku. Kamu seperti kerlip bintang di tengah rintik hujan, menghapus derai air mataku yang tumpah hampir setiap malam, mencoba menawarkan perhatian kala aku benar-benar ingin sendiri dan tidak menginginkan kehadiran siapapun di perjalanan hidup ku berikutnya. Namun caramu yang teramat halus, dan bersahaja membuatku tak kuasa menolak setiap uluran perhatian yang engkau tawarkan. Hingga tanpa disadari aku mulai kehilangan jika sehari saja engkau tidak menyapaku. Menawarkan seulas senyum ditengah pedih yang sedang melanda kehidupanku, hingga saat itu aku hanya terdiam dan tidak pernah menanggapimu dengan rasa yang aku punya.

Wan, maaf aku tidak punya rasa itu, aku hanya ingin menganggapmu sebagai teman, namun aku juga tidak akan menolak kemungkinan jika engkau mampu membuatku menumbuhkan rasa itu di hatiku, engkau berhak atas itu wan, karena akupun sudah mulai lelah dengan perjalanan ini, akupun sudah ingin membuat orang-orang terdekatku tidak khawatir lagi, tidak bertanya-tanya lagi bahwa sebenarnya apa mauku? kenapa aku tidak pernah bisa menerima kehadiran pribadi-pribadi yang memilihku untuk berjalan bersama mereka, yang datang silih berganti, maka dari itu, aku beri kamu kesempatan untuk menumbuhkan rasa itu, dan jika engkau berhasil engkau berhak pula untuk memilikinya, tidak usah khawatir, mataku tidak gampang melihat keindahan dari tempat yang lain, berusahalah jika kamu memang menginginkanku. Itulah jawaban atas pengutaraan isi hati di satu hari kala engkau meminta kesediaanku menjadi seseorang yang akan menempati tempat spesial di hatimu. Engkau mencoba menyetujuinya, meski engkau tampak begitu bingung dan berharap kalau jawaban yang engkau terima tidaklah demikian. Namun, engkau mencoba menerima semua itu dengan lapang dada.

Begitulah hari-hari berikutnya, engkau tampak begitu setia menemani hari-hariku, disela kesibukan kita masing-masing yang membuat kemungkinan untuk komunikasi langsung terkadang sering menjadi kendala. Namun, usahamu untuk selalu menyempatkan diri, buat hanya sekedar menemani menghabiskan jam makan siang sebelum akhirnya kita harus kembali ke pekerjaan masing-masing, benar-benar suatu pengorbanan yang sengaja engkau lakukan untukku, sayang aku baru menyadarinya sekarang.

Hari-hari berjalan, semakin hari semakin jelas kalau kita memiliki perbedaan yang tidak mungkin diterima oleh pribadi kita masing-masing. Hingga tidak jarang kita berselisih dan saling diam, itulah awal dari semuanya. engkau mulai pesimis dengan usahamu untuk menaklukkan hatiku. Aku tidak pernah tampak benar-benar bisa menghargai usahamu itu, entahlah akupun tidak tahu kenapa, aku benar-benar egois ke kamu waktu itu. Ditengah kebekuan hubungan kita diakibatkan oleh ego ku dan perbedaan pandangan antara kita, ujian lainpun datang, satu-satunya wanita yang pernah mengisi hari-harimu, dan telah meninggalkanmu 5 tahun lalu, tiba-tiba saja hadir kembali. Engkau mengira kalau ia benar-benar sudah tiada, ia sudah berlalu dibawa gelombang bersama hancurnya hatimu yang telah diciptanya. Hingga engkaupun mencoba mengobatinya hampir 5 tahun lamanya. Begitu katamu waktu itu, di penghujung hari disela desiran angin yang berhembus di helai daun-daun cemara, sebuah pantai untuk terakhir kalinya kita kunjungi bersama. Menikmati santapan khas kota kita, menghirup hembusan angin yang lembut, dan bercerita panjang lebar tentang masa lalumu dan hari depan kita. Kenapa, kok hari ini kamu cerita tentang dia wan?? Apa memang kamu tidak bisa melupakannya, dan ingin kembali padanya? Kataku, kamupun membalas pertanyaanku dengan nada yang meninggi, ngapain sich nanyain pertanyaan yang begituan? Gak, kalau memang kamu mau kembali ke dia, kembalilah, aku tidak bisa menahanmu bersamaku, padahal engkau memikirkan orang lain, kataku lagi. Dan engkaupun hanya menimpali kalau sekarang kita melakukan perencanaan untuk mendekatkan sanak kerabat kita, berhubung karena perjalanan yang kita jalani sudah saatnya untuk maju ke tahapan berikutnya, katamu.

Begitulah, kita menghabiskan hari, dan berbicara panjang lebar sambil sekali-sekali tergelak dan tersenyum bahagia atas tingkah orang yang berada di sekeliling kita, pada saat itu, aku begitu merasa terlindungi berada di dekatmu, karena ketika melihat sekliling kita, tidak ada satupun orang yang bersikap sepertimu dan begitu menghormati aku sebagai perempuan. Engkau benar-benar laki-laki terhormat, ungkapku dalam hati.

Begitulah seterusnya, hubungan kita semakin dekat saja, hingga peristiwa itupun datang diperjalanan kita, seminggu setelah pertemuan kita terakhir aku mendapatimu dingin, menjemputku ke kantor hanya dengan sebuah sapaan, maaf abang telat jemputnya, engkau diam sepanjang jalan, tidak seperti biasanya engkau berkicau sepanjang perjalananan, meski terkadang aku bosan mendengar ocehanmu.
Hari itu engkau benar-benar beda wan, hatiku bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuatmu demikian diam sepanjang perjalanan yang kita tempuh menuju rumahku yang menghabiskan waktu hampir 20 menit lamanya. Aku bertanya engkau hanya menimpali, kalau kamu baik-baik saja.

Hari-hari berikutnya, tampak semuanya berubah, aku mulai jarang mendapati deringan handphone atas panggilanmu, aku mulai jarang menerima pesan atas pertanyaan-pertanyaan seputar keseharianku, aku mulai jarang diingatkan untuk segera tidur kala malam, aku mulai jarang dibangunkan kala pagi,
dan jangan lupa sarapan, mengingatkanku untuk berdoa agar Allah selalu memberi kita kekuatan untuk menjalani hari-hari yang tidak selamanya berjalan sesuai keinginan, aku mulai jarang diingatkan jangan terlalu lelah bekerja dan seterusnya. Aku mulai bertanya-tanya ada apa gerangan yang sedang menimpamu, aku mulai mencoba bertanya pada diri sendiri, apakah ada salah yang telah aku lakukan sehingga engkau mendiamkanku. Akhirnya akupun tidak tahan dengan kondisi ini dan mencoba mendesakmu apa yang telah berlaku dengan kita, kenapa engkau mendiamkanku?? Dan engkau mencoba menyembunyikannya kalau tidak ada apa-apa diantara kita, semuanya baik-baik saja katamu.

Begitulah seterusnya, hingga perselisihan antara kita juga tidak terhindarkan, karena engkau mengatakan kalau kita harus mengakhiri perjalanan kebersamaan kita, karena engkau ingin kembali, kembali ke perempuan yang telah membawa separuh hatimu, aku terdiam, marah, kecewa dan tak tau lagi berkata apa. Engkau benar-benar telah membuatku terluka wan, hingga akupun berniat tidak pernah kenal kamu lagi, dan berharap kalau aku bisa melupakannmu buat selama-lamanya. Malam itu aku berjalan meninggalkanmu di tempat pertemuan kita untuk kali terakhir aku berlari dengan deraian air mata yang membuat pandanganku mengabur, mengemudikan kendaraan dengan tujuan yang tak bisa kupastikan, malam itu aku pulang dengan segudang kekecewaan atas apa yang telah engkau perbuat terhadapku.

Kenapa, engkau datang hanya untuk membuatku sakit, terjatuh dan terkulai tak berdaya, engkau datang sebagai penyempurna atas serentetan kekecewaan yang telah diperbuat oleh pribadi-pribadi yang pernah hadir dikehidupanku, Iya wan, engkau telah membuat sakit itu sempurna kini, akupun tidak berniat lagi buat menyembuhkannya, akupun tidak berniat lagi untuk menemukan keindahan dari sorot-sorot mata yang berbeda, kali ini aku benar-benar terkulai tak berdaya, terima kasih engkau hadir disaat yang tepat wan, namun bukan sebagai obat, tetapi sebagai pelengkap kehancuran hatiku yang yang sudah rapuh dan rentan dengan segala bahaya.

Aku tidak pernah menyesal untuk waktu dan perhatian yang kuberikan, namun yang aku sesalkan kenapa engkau berani berjanji sedemikian rupa, namun engkau mampu mengingkarinya dalam waktu sehari?? Entahlah, aku tidak tahu terbuat dari apakah hatimu wan?? Engkau benar-benar membuatku kecewa dan patah arang, namun inilah kenyataan, mau tidak mau aku memang harus terima itu.

Itulah ungkapan ku malam itu, begitulah seterusnya hingga akupun disibukkan dengan aktivitas lain, niatku untuk meninggalkan kota ini benar-benar sudah bulat, mungkin inilah salah satu hikmah yang kudapat dari keretakan hubungan kita wan, aku benar-benar bersemangat buat menjalani semuanya, aku benar-benar ingin segera meninggalkan semuanya, meninggalkan setiap kenangan pahit yang kutemui dari pribadi-pribadi yang terlanjut kutemui di kota ini, dan mencari kehidupan yang lebih indah di tempat yang berbeda.

Hari-hari berjalan, ternyata aku tidak bisa membenci kamu wan, Allah benar-benar tidak memberiku rasa itu, aku benar-benar tidak pernah bisa membenci setiap pribadi yang telah membuatku kecewa dan sedih, aku tetap bersyukur wan, atas ketulusan yang pernah engkau curahkan meskipun itu palsu, biarlah itu hanya kamu yang tahu, namun dimataku tetap saja itu adalah buah ketulusan yang sudah sepantasnya aku hargai.

Hari-hari pertama, berada dinegeri orang, ingatan tentang kampung halaman dan kota yang telah mendewasakanku benar-benar tidak terelakkan wan, dan hari itu suatu pagi, aku mencoba mengirimkan pesan buat sekedar nanyain kabar dan meminta maaf, tak disangka-sangka wan, lagi-lagi engkau menyalahkan aku atas apa yang berlaku dengan hubungan kita, kemanakah hatimu wan?? Engkau telah membuatku terluka, namun engkau tidak pernah menyadari itu, engkau malah menyalahkan aku atas semuanya.

Akhirnya, aku berusaha menghapus semuanya tentangmu wan, aku tidak pantas menghargai kamu atas apapun juga fikirku, bahkan aku tidak berhak untuk menyimpan segala kenangan masa lalu kita, karena itu semua hanya akan membuatku terlarut dalam duka dan kekecewaan terhadapmu. Begitulah wan, aku berusaha menyembuhkan semuanya sendiri, mencoba mengambil hikmah atas semua yang berlaku, tapi engkau benar-benar telah meruntuhkan semua mimpiku tentang keindahan atas pribadi-pribadi yang hadir di waktu berikutnya, aku mulai ketakutan kalau-kalau mereka tidak jauh beda sepertimu, hanya berniat, mengumbar janji dan kemudian menyakiti, sempurnalah sudah wan, sempurnalah luka yang engkau perbuat diperjalananku.

Meskipun demikian, aku tidak pernah benar-benar berhasil melupakan dan membencimu, lagi-lagi logikaku tidak bisa ku ajak kompromi dengan hati, namun jauh sebelum hari ini aku sudah benar-benar memaafkanmu wan, semoga satu saat aku akan tersenyum mendengar kabarmu kalau engkau sudah bahagia dengan jalan yang engkau pilih, semoga….


Tidak Tuhan, cukup sudah waktu setahun aku sisakan buat dia, kini saatnya hamba benahi semua, benahi hati, benahi sikap, cara pandang, dan semua planning yang sempat menyimpang beberapa derajat ke posisi yang tidak diinginkan. Tuntunlah hamba selalu….

Read More......